Entry: # philo vol 30 Saturday, September 09, 2006
Kebenaran Selalu Dicari
Sepertinya memang tidak mudah untuk menemukan kesederhanaan di alam kita saat ini. Semuanya sudah terkondisikan menjadi serba rumit. Kalaupun pada awalnya mudah, kini banyak orang terlanjur membuat jargon etika, tata cara maupun norma, dan kemudian jadi berbelit. Keadaan sudah tidak seperti dahulu. Memang benar bahwa tatacara merupakan bagian dari budaya. Manusia jadi teristimewa dan tampak berbeda karena aktivitas ini. Sejak dahulu manusia selalu membuat berbagai aturan demi terciptanya keteraturan dan kenyamanan kehidupan bersama. Ini hanyalah tahap awal (penciptaan oleh manusia). Berikutnya, berbagai aturan ciptaan tersebut (setelah di-amini oleh banyak pihak-red) akan memiliki kemampuan untuk membentuk manusia (dari sudut personality-red). Mungkinkah keadaan sudah berbalik? Di Indonesia, kita mendengar istilah kepribadian Pancasila. Konon inilah kepribadian yang diidam-idamkan oleh founding father kita. Mungkin anda semua masih ingat berbagai penataran P-4 yang dulu sering diadakan oleh instansi-instansi pendidikan kita. Terus terang, sejak dulu saya paling enggan mengikutinya. Meski akhirnya tetap mengikuti dikarenakan keterikatan kurikulum (tentunya dengan perasaan kesal-red). Bagi saya segala penataran tadi tidak lebih daripada sekedar pedagogi, propaganda atau istilah gampangnya "pembatasan area berpikir". Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan era NAZI ala Hitler di jerman!!. Konsekuensi konkret dari keadaan tadi adalah terciptanya manusia-manusia seragam (manusia-manusia tidak kreatif-red). Sepertinya saya lebih sepakat kepada teknik pencarian kebenaran ala Hegel yang mengusung "dialektika". "Kebenaran selalu dicari". Akan selalu ada penyangkalan-penyangkalan demi memperoleh kebenaran murni. So, terlepas dari segala paham dan kesukuan masing-masing, marilah kita cari kebenaran sejati, dengan tanpa menafikan kebenaran pribadi yang lain.